Rabu, 21 September 2011

Pengajuan Ujian PPL PPG


H a l : Rencana Pelaksanaan Ujian PPLPPG

Kepada : Yth. Kaprodi PPG Fisika
                      Di Tondano

Dengan hormat,
Sehubungan dengan telah dipenuhinya persyaratan untuk melaksanakan
Ujian PPL maka saya mengajukan rencana pelaksanaan ujian PPL
yang akan dilaksanakan pada :
             Hari/Tanggal : ………………………………………
             Kelas/Sekolah : ………………………………………
             Jam Pelajaran : …….…..… (pkl………s.d…………)
Untuk maksud tersebut bersama ini saya lampirkan:
1. Perangkat Pembelajaran (RPP lengkap) yang akan digunakan dalam
pelaksaan Ujian PPL.
2. Jurnal kegiatan PPL.
Demikian pengajuan rencana pelaksaan Ujian PPL untuk diketahui.

                                                                     Tondano, ..…………...2011
Mengetahui:                                                   Peserta PPL PPG Fisika,
Guru Pamong,

………………                                             ……..........................

                                                 Menyetujui:
                                            Dosen Pembimbing,

                                          …………………….

Sabtu, 13 Agustus 2011

STATISTIKA DASAR

Materi Perkuliahan "Statistika Dasar"
Dosen : Aswin H Mondolang
PGBI Fisika-FMIPA-UNIMA

Bag 1.Pengetahuan dasar statistik
Bag 2.Penyajian data dalam bentuk tabel
Bag 3.Penyajian data dalam bentuk diagram
Bag 4.Ukuran pemusatan
Bag 5.Ukuran lokasi dan dispersi
Bag 6.Ukuran kemiringan, keruncingan dari kurva normal
Bag 7.Kurva normal dan kegunaannya
Bag 8.Kurva-kurva lain dan penggunaannya
Bag 9.Distribusi sampling

KONTRAK PERKULIAHAN EVALUASI BELAJAR MENGAJAR FISIKA

Nama Mata Kuliah: Evaluasi Belajar Mengajar Fisika
Program Studi : Pendidikan Fisika (PGSBI)
SKS : 3 SKS
Hari/Jam: Rabu/07.30-10.00
Tempat perkuliahan: Ruang Kuliah PPG Fisika

Oleh :
Drs.Aswin H.Mondolang,MPd
Dosen Pendidikan Fisika FMIPA UNIMA

1.Tujuan Mata Kuliah :
Agar mahasiswa memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menyusun dan mengembangkan berbagai bentuk instrument evaluasi pembelajaran fisika di sekolah (SMP/SMA/SMK) yang sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

2.Deskripsi Mata Kuliah :
Mata Kuliah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa calon guru profesional dalam pengembangan berbagai bentuk instrumen evaluasi pembelajaran fisika Sekolah Menengah (SMP, SMA) sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kegiatan dalam mata kuliah ini terfokus pada pemantapan latihan-latihan merancang dan menyusun instrumen evaluasi pembelajaran fisika SMP/SMA, sampai dengan menguji coba, menganalisis dan menginterpretasikan hasil evaluasi, berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh melalui kuliah evaluasi belajar mengajar Fisika.

3.Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami Sistem & Rancangan Penilaian Hasil Belajar serta mampu mengembangkan dan mengaplikasikan berbagai bentuk instrument Evaluasi Belajar Mengajar fisika.

4.Strategi Perkuliahan :
Agar sasaran mata kuliah ini dapat tercapai secara optimal, maka perkuliahan ini menggunakan strategi yang menekankan pada keterlibatan peserta kuliah (mahasiswa) secara aktif dalam mengkaji materi dan membahas tugas yang diberikan dan mengkomunikasikannya/ mempresentasikan dalam forum diskusi kelas. Juga para mahasiswa diwajibkan menelusuri dan mengkaji berbagai sumber belajar melalui internet.

5. MATERI (POKOK) PERKULIAHAN
#Konsep-konsep Dasar Evaluasi Pendidikan (evaluasi, penilaian, pengukuran)
#Pengembangan Butir Soal (Indikator, kisi-kisi, Teknik penyusunan, bentuk soal)
#Analisis Butir Soal (kualitatif, kuantitatif: manual, exel, SPSS, iteman)

5.Evaluasi :
Meliputi kehadiran (persyaratan mengikuti UAS) (10%) , keaktifan dalam perkuliahan (dinilai oleh teman sejawat) (10%) , Tugas tertulis perorangan dan kelompok (bobot 30%), UTS (bobot 20%), dan UAS (30%).

6. Sumber Bacaan/program (Rujukan) :
Utama :
1)BSNP., 2008. Pedoman Pengembangan Penilaian. Jakarta
2)BNSP., 2008. Rancangan Hasil Belajar, Jakarta
3)Kurikulum fisika (standar kompetensi) SMP,SMA yang berlaku
4)BNSP., 2010. Panduan Analisis Butir Tes, Jakarta
5)Software/program analisis dengan Kalkulator statistik, EXEL, ITEMAN
Penunjang :
1)Djaali, 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Grasindo.Jakarta
2)Mardapi Djemari, 2008.Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Mitra Cedekia, Yogyakarta

--------------------------------------


Rabu, 03 Agustus 2011

Daftar Peserta PPL PPG, Dosen Pembimbing, dan Guru Pamong

UNIVERSITAS NEGERI MANADO
LEMBAGA PENDIDIKAN PROFESI GURU
PROGRAM PPG PRAJABATAN BASIC SCIENCE –FISIKA

DAFTAR PESERTA-LOKASI-DOSEN PEMBIMBING dan GURU PAMONG
PPL PPG BASIC SCIENCE PEND.FISIKA
TAHUN 2011

SMPN 1 Tondano
1.Sefti N. Dumat : Dra.T.Rondonuwu,MPd/Audy Tumengkol,MPd
2.Jusrin : Dra.T.Rondonuwu,MPd/Audy Tumengkol,MPd
3.Selmans Karaeng :Drs.Aswin Mandolang,MPd/Audy Tumengkol,MPd
4.Wa Ode Munawar :Dra.J.Tumangkeng,MSi/Audy Tumengkol,MPd
5.Salmawati:Dra.J.Tumangkeng,MSi/Audy Tumengkol,MPd

SMPN 2 Tondano
6.Enriko Golongi : Drs.H.Wagania,MS/Bertje Wungow,SPd
7.Elvyanti Sabarara :Drs.Aswin Mandolang,MPd/Bertje Wungow,SPd
8.Nursia F. Senen :Dra.J.Rende,MSi/Bertje Wungow,SPd
9.Arwan :Dra.J.Rende,MSi/Bertje Wungow,SPd

SMPN 1 Tomohon
10.Yusniati : Prof.Dr.R.Palilingan,MSi/Drs.Harry S.Kainde
11.Jumardi Rabika :Prof.Dr.R.Palilingan,MSi/Drs.Harry S.Kainde
12.Sutrisnawati Mehora :Drs.H.S.Kangiden,MPd/Drs.Harry S.Kainde
13.Surya Ningsih :Drs.H.S.Kangiden,MPd/Drs.Harry S.Kainde

SMAN 1 Tondano
14.Abd. Rachman :Drs.J.B.Moningka,MSi/Dra.Phaggy C.A.Kumaunang
15.Ferdy Lahaube :Drs.J.B.Moningka,MSi/Dra.Phaggy C.A.Kumaunang
16.Marshel Wangkanusa :Drs.S.N.Tengko,MP/Dra.Phaggy C.A.Kumaunang
17.Evi Lisan :Drs.S.N.Tengko,MP/Dra.Phaggy C.A.Kumaunang
18.Patma W.Mangidor :Drs.H.Wagania,MS/Dra.Phaggy C.A.Kumaunang

Tondano, 28 Juli 2011
KaPRODI PPG Fisika.


Drs.Aswin H.Mondolang,M.Pd.
NIP.19600820 198503 1 004

Sabtu, 23 Juli 2011

Jurnal Peer Teaching PPG Pendidikan Fisika

JURNAL PEER TEACHING
Hari/Tanggal : ………………………………
Praktikan : ………………………………
Program Studi : Pendidikan Fisika PPG
Waktu Pelaksanaan : Pukul ..… s.d. ……… (40’Latihan, 15’ refleksi)
Ketrampilan yang akan dilatih : ……………………………
Penggalan RPP : Pertemuan I (terlampir)
Lembar Penilaian Peer Teaching : Ketrampilan 1 (Ketrampilan Bertanya)
Catatan/Komentar Pembimbing/Pendamping:
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Tondano, ……………………2011
Pembimbing/Pendamping,



…………………………………

Senin, 07 Maret 2011

KOMPLEKSITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR

1.1 Masalah pada Kelas Konvensional
Dalam kelas-kelas konvensional, model perkuliahan merupakan model pelajaran yang paling sering digunakan. Seorang guru berdiri di depan kelas dan terus berbicara kepada siswanya sambil memegang buku teks di salah satu tangannya, dan kapur atau spidol di tangan lainnya. Ekspresi wajah guru biasanya tegas, sementara suaranya terdengar keras dan lantang. Siswa terus mendengarkan gurunya dengan diam. Sangat jarang ditemukan siswa yang bertanya atau mengungkapkan pendapat mereka selama kelas berlangsung. Banyak guru percaya bahwa kelas semacam ini, yaitu dimana siswa mengangkat tangan dengan cepat dan menjawab dengan benar tepat setelah guru melontarkan pertanyaan, serta siswa akan menjawab “Ya” secara serempak ketika guru bertanya “Apakah kalian mengerti?” merupakan contoh terbaik. Kelas semacam ini terlihat berjalan dengan lancar dan berdisiplin. Namun, siswa berada dalam ketegangan yang sangat hebat dan kebanyakan dari mereka tertinggal selama pelajaran, khususnya siswa yang lamban pemahamannya. Hanya siswa yang mampu paham dengan cepat saja yang dapat bertahan dalam kelas semacam ini.

Pada kelas sperti ini, fokus utama guru adalah bagaimana mentransfer berbagai macam informasi yang tercantum pada buku teks kepada siswa secara tepat dan efisien. Guru berkonsentrasi pada Rencana Pembelajaran (RPP) dan mencoba mengajarkan apa saja yang tercantum dalam Rencana Pembelajaran tersebut. Guru tidak pernah berpikir tentang minat atau perhatian siswa selama pelajaran berlangsung. Guru juga tidak pernah berpikir pada saat beliau mengajar tentang bagaimana informasi-informasi tersebut berkaitan dengan pengalaman sehari-hari siswa atau bagaimana informasi-informasi tersebut dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Tujuan akhir guru hanyalah untuk memberitahu siswanya tentang apa yang seharusnya beliau ajarkan dalam batasan waktu tertentu. Siswa hanya berkonsentrasi untuk menghapal apa yang guru mereka katakan. Karena itu, mereka mulai berpikir bahwa menghapal merupakan cara belajar terbaik dan merupakan hal yang diiginkan oleh guru mereka. Mereka mulai mencoba untuk menghapalkan apapun tanpa pemikiran atau pemahaman yang mendalam. Dalam situasi semacam ini, banyak siswa tidak dapat memahami tujuan dari belajar dan beberapa dari mereka mungkin mulai bertanya pada diri sendiri: “Mengapa kita harus duduk diam dan mendengarkan guru dalam kelas yang tidak menyenangkan setiap hari?” ”Mengapa kita harus mempelajari hal-hal yang membosankan setiap hari?” “Apa manfaat yang kita dapatkan setelah mempelajari hal-hal ini?” dsb. Sayang sekali, siswa tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengalami pelajaran yang menyenangkan. Tingkat pemahaman mereka tidak pernah cukup mendalam, melainkan hanya pemahaman yang dangkal saja, karena mereka hanya menyentuh permukaan dari suatu topik saja.

Sumber : Depdiknas dan Depag RI-JICA. “Panduan Untuk Peningkatan Proses Belajar dan Mengajar.” Pelita SMP/MTs., Juli 2009:1.

Tugas Perencanaan Pembelajaran Fisika (2011)

Peserta Perkuliahan diharuskan:
1. Mengikuti Perkuliahan
2. Mendapatkan silabus dan RPP dari sekolah (SMP dan atau SMA)
3. Menganalisis Silabus dan RPP dari sekolah dengan mengacu pada bahan perkuliahan yang terdapat dalam arsip blog ini: a)Analisis silabus dan RPP Fisika, b) Lembar Penilaian RPP.
4. Membuat tugas mengenai komponen-komponen silabus dan RPP.

Rabu, 02 Maret 2011

Analisis Silabus dan RPP Fisika

ANALISIS SILABUS DAN RPP
MATA PELAJARAN FISIKA MA SESUAI PRINSIP KTSP
(Disampaikan pada Diklat Guru Bidang Studi Fisika MA Tk.Lanjutan)
0leh. Aswin H.Mondolang
Dosen Pendidikan Fisika FMIPA-UNIMA

PENGANTAR
Pembelajaran yang direncanakan dengan saksama oleh seorang guru sehingga dalam pembelajaran siswa terlibat aktif belajar dalam pembelajaran tentunya memerlukan langkah-langkah yang jelas, sistematis dan tepat. Perencanaan pembelajaran yang tidak sistematis dapat berakibat proses pembelajaran tidak mencapai sasaran yang tepat. Oleh sebab itu sangatlah penting bagi seorang guru dalam mempersiapkan pembelajarannya. Berikut ini akan disajikan kajian mengenai Analisis Silabus dan RPP Mata Pelajaran Fisika MA sesuai Prinsip-prinsip KTSP sebagai bahan ajar yang akan menjadi salah satu referensi peserta pelatihan.
TUJUAN
1.Peserta pelatihan memahami prinsip-prinsip dan langkah-langkah mengembangkan Silabus dan RPP mata pelajaran Fisika.
2.Peserta pelatihan memahami prinsip-prinsip menganalisis Silabus dan RPP mata pelajaran Fisika.
3.Peserta pelatihan terampil menganalisis Silabus dan RPP mata pelajaran Fisika.

MATERI POKOK
•Prinsip-prinsip dan langkah-langkah mengembangkan Silabus dan RPP mata pelajaran Fisika.
•Prinsip-prinsip menganalisis Silabus dan RPP mata pelajaran Fisika.
•Berlatih menganalisis Silabus dan RPP mata Pelajaran Fisika.

URAIAN MATERI
I.PENGEMBANGAN SILABUS SESUAI KTSP
A.Pengertian Silabus
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
B.Prinsip Pengembangan Silabus
1.Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2.Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3.Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4.Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5.Memadai
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6.Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7.Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8.Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
C.Unit Waktu Silabus
1.Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Penyusunan silabus dilaksanakan bersama-sama oleh guru kelas/guru yang mengajarkan mata pelajaran yang sama pada tingkat satuan pendidikan untuk satu sekolah atau kelompok sekolah dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing sekolah.
2.Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.
D.Langkah-langkah Pengembangan Silabus
1.Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a.urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi;
b.keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c.keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
2.Mengidentifikasi Materi Pokok
Mengidentifikasi materi pokok yang menunjang pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a.tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik
b.kebermanfaatan bagi peserta didik
c.struktur keilmuan
d.kedalaman dan keluasan materi
e.relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
f.alokasi waktu
3.Mengembangankan Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar merupakan kegiatan mental dan fisik yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Rumusan pengalaman belajar juga mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik.
4.Merumuskan Indikator Keberhasilan Belajar
Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan/atau respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
5.Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
6.Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar.
7.Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
E.Pengembangan Silabus Berkelanjutan
Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru.
Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran),dan evaluasi rencana pembelajaran.
II.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
A.Pengertian, Tujuan dan Fungsi RPP
RPP merupakan penjabaran lebih lanjut dari silabus dan merupakan komponen penting dari KTSP yang pengembangannya harus dilakukan secara profesional. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.
Tujuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah untuk mempermudah, memperlancar dan meningkatkan hasil proses belajar mengajar serta dengan menyusun rencana pembelajaran secara sistematis maka guru akan mampu melihat, mengamati, menganalisis,dan memprediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana.
Fungsi rencana pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efisien.
B.Prinsip-prinsip mengembangkan RPP
Rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran, dengan demikian RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan RPP harus memperhatikan perhatian dan karakteristik peserta didik terhadap materi standar yang disajikan bahan kajian. Dalam hal ini harus memperhatikan agar guru tidak hanya berperan sebagai transformator tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah dan nafsu belajar serta mendorong peserta didik untuk belajar dengan menggunakan berbagai variasi media dan sumber belajar yang sesuai serta menunjang pembentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Terdapat beberapa prinsip dalam mengembangkan RPP dalam menyukseskan implementasi KTSP sebagai berikut:
1.Kompetensi yang dirumuskan dalam RPP harus jelas.
2.RPP harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
3.Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam RPP harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan diwujudkan.
4.RPP yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.
5.Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksanakan secara tim (team teaching) atau dilaksanakan diluar kelas agar tidak mengganggu jam-jam pelajaran yang sesuai.
C.Komponen-komponen RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memiliki enam komponen yaitu : (1)I dentitas mata pelajaran, (2) standar kompetensi dan kompetensi dasar, (3) materi pembelajaran, (4) strategi atau skenario pembelajaran, (5) sarana dan sumber pembelajaran, dan (6) penilaian dan tindak lanjut, (Kunandar , 2007)
D.Langkah-langkah mengembangkan RPP
Ada empat langkah yang harus ditempuh guru dalam mengembangkan RPP,yaitu :
Langkah pertama adalah mengidentifikasi dan mengelompokkan potensi yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. Kompetensi yang dikembangkan harus mengandung muatan yang menjadi materi standar yang dapat diidentifikasi berdasarkan kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat, ilmu pengetahuan dan filsafat.
Langkah kedua adalah mengembangkan materi standar. Materi standar merupakan isi kurikulum yang diberikan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Secara umum materi standar mencakup tiga komponen utama yaitu ilmu pengetahuan, proses, dan nilai-nilai, yang dapat dirinci sesuai dengan kompetensi dasar serta visi dan misi sekolah.
Langkah ketiga dalam menyusun RPP adalah menentukan metode. Penentuan metode pembelajaran erat kaitannya dengan pemilihan strategi pembelajaran yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk membentuk kompetensi dasar.
Langkah keempat adalah merencanakan penilaian. Sejalan dengan KTSP yang berbasis kompetensi penilaian hendaknya dilakukan berdasarkan apa yang dilakukan oleh pesreta didik selama proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Guru sebagai pengembang RPP seharusnya melakukan penilaian terhadap efektivitas pelaksanaannya. Penilaian dapat dilakukan selama proses implementasi RPP maupun sesudahnya sehingga kegiatan yang terbaik bagi guru sebagai pengembang kurikulum di sekolah adalah melakukan evaluasi kurikulum secara terus menerus, utuh, dan menyeluruh.
Karena Perencanaan merupakan suatu bentuk dari pengambilan keputusan (decision making) maka sehubungan dengan itu RPP yang dikembangkan oleh guru menurut Ornstein dalam Mulyasa (2007), akan dipengaruhi oleh dua area yaitu: (1) Pengetahuan guru terhadap bidang studi (subject matter knowledge), yang ditekankan pada organisasi dan penyajian materi, pengetahuan akan pemahaman peserta didik terhadap materi dan pengetahuan tentang bagaimana mengajarkan materi tersebut. (2) Pengetahuan guru terhadap sistem tindakan (action system knowledge), yang ditekankan pada aktivitas guru seperti mendiagnosis, mengelompokkan, mengatur dan mengevaluasi peserta didik serta mengimplementasikan aktivitas pembelajaran dan pengalaman belajar.
E.Membuat Perencanaan
Untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Yang harus dilakukan (pada intinya) adalah :
(1)mempelajari topic/materi yang akan diajarkan lalu tentukanlah target (tujuan) untuk pembelajaran tersebut. Tetapi jangan menetapkan terlalu banyak target/tujuan.
(2)pikirkan tentang skenario pembelajaran.
(3)Tentukan jenis materi dan perangkat pembelajaran yang akan Anda gunakan.
Saran untuk diperhatikan adalah Rencana Pembelajaran yang sederhana sudah cukup
Anda tidak perlu membuat rencana pembelajaran yang terlalu terperinci. Sebuah rencana pembelajaran (RPP) harus mengikuti format baku yang telah ditetapkan pemerintah. Anda harus memenuhi ketentuan ini.
Dua hal utama yang harus ada dalam suatu rencana pembelajaran adalah:
1 Tujuan. Anda harus memiliki tujuan jelas yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran. Apabila tujuan Anda sudah jelas, Anda tidak akan tersesat selama pembelajaran.
2 Reaksi siswa. Anda harus mampu menganitisipasi reaksi siswa atas materi atau pertanyaan yang Anda ajukan. Dengan melakukan antisipasi semacam ini di dalam pikiran, Anda akan dapat merespon reaksi siswa dengan jauh lebih baik.
F.Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
1)Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
2)Mendorong partisipasi aktif peserta didik
3)Mengembangkan budaya membaca & menulis
4)Memberikan umpan balik & tindak lanjut
5)Keterkaitan & keterpaduan
6)Menerapkan TIK (Djaali, 2009)
G.Bagaimana Kita Menganalisa Sebuah RPP?
Point penting yang harus dianalisa adalah :
1)Apakah konsep pelajaran ini jelas,
2)Apakah tujuan pelajaran dengan jelas disebutkan dalam kalimat yang ringkas,
3)Apakah proses pembelajaran dan metodologi jelas,
4)Apakah sikap belajar siswa diperhatikan, dan
5)Apakah kesimpulannya jelas.
Beberapa pertanyaan berikut dapat menghantarkan Anda pada proses menganalisa RPP : □ Apakah tujuan pembelajaran telah disusun secara tepat? Apakah telah merefleksikan
konsep dan poin-poin penting dari pelajaran tersebut?
□ Apakah struktur pelajaran telah dipertimbangkan dengan baik sehingga siswa dapat
menghubungkan pengalaman baru mereka dari pelajaran tersebut dengan pengetahuan mereka sebelumnya dan pengalaman mereka di masa lalu?
□ Apakah isi dari pelajaran tersebut memiliki hubungan terhadap pengalaman siswa sehari-hari?
□ Apakah “Masalah” telah dikembangkan berdasarkan minat, perhatian dan keingintahuan siswa?
□ Apakah waktu yang disiapkan sudah cukup untuk membuat siswa berpikir, baik secara individu maupun secara berkelompok?
□ Apakah kegiatan belajar, di mana siswa betul-betul dapat melakukan sesuatu seperti
eksperimen, telah disertakan?
□ Apakah kegiatan kelompok (khusunya “Pembelajaran Kolaboratif”) telah dipertimbangkan?
□ Apakah guru telah menyiapkan kemungkinan reaksi-reaksi yang beragam dan pertanyaan yang tepat bagi siswa?
□ Dapatkah pendapat, pertanyaan, kesalahan-kesalahan dan semua penemuan siswa dipergunakan secara efektif sepanjang pelajaran berlangsung?
□ Apakah pelajaran tersebut memiliki alur yang baik?

PENUTUP
Guru yang baik adalah guru yang mampu mempersiapkan program pembelajaran dan sekaligus mampu melaksanakannya serta mampu menilai hasil kinerjanya sendiri. Guru yang baik sudah memikirkan apa yang akan ditulis atau digambar di papan tulis ketika menyusun rencana pembelajaran. Sebuah presentasi yang dilakukan secara sadar, jelas dan terorganisir akan memfasilitasi pemahaman siswa. Seorang guru yang baik bahkan sudah memikirkan dimana presentasi tersebut akan ditulis atau digambar di papan tulis.

Semoga bermanfaat

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas dan Depag Republik Indonesia, 2009. Buku Petunjuk Guru untuk Pembelajaran yang Lebih Baik, JICA-IDC Japan.
http//id.wikipediaorg/wiki/kurikulum tingkat satuan pendidikan.com.
Kunandar . 2007. Guru professional implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP) dan sukses dalam sertifikasi guru. PT RajaGrafindo Persada : Jakarta.
Majid Abdul. 2007. Perncanaan Pembelajaran. PT Remaja Rosdakarya: Bandung
Mulyasa, Enco. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Remaja Rosdakarya : Bandung .
Muslich, Masnur. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Dasar Pemahaman dan Pengembangan). Bumi Aksara : Jakarta
--------------. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual). Bumi Aksara : Jakarta.

Lembar Penilaian RPP Fisika

LEMBAR PENILAIAN RPP Fisika

Petunjuk
Berilah skor pada butir-butir perencanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut.
1 = sangat tidak baik
2 = tidak baik
3 = kurang baik
4 = baik
5 = sangat baik

1.Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar) 1 2 3 4 5

2.Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5

3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) 1 2 3 4 5

4.Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5

5.Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran : awal, inti, dan penutup) 1 2 3 4 5

6.Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 5

7. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 5

8. Kelengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5

Jumat, 25 Februari 2011

Pengantar Pendidikan Fisika RSBI

SILABUS
MATA KULIAH PENGANTAR PENDIDIKAN FISIKA (RSBI)
by. Aswin_H_Mondolang
February 21, 2011
A. Pengantar
Mata Kuliah Pengantar Pendidikan pada Program Pendidikan Fisika FMIPA-UNIMA adalah mata kuliah yang termasuk dalam Mata Kuliah Wajib -MKDK- dengan kode ……… yang diberikan pada semester genap Tahun Akademik (TA) 2010/2011 dengan bobot 2 SKS (Satuan Kredit
Semester).
B. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah Pengantar Pendidikan ini merupakan mata kuliah keahlian yang mesti diikuti oleh setiap mahasiswa program studi pendidikan fisika dengan harapan dapat membekali mahasiswa, sebagai calon guru yang melaksanakan tugas dengan wawasan keilmuan pendidikan yang benar yang sajiannya meliputi komponen pendidikan dan aspek-aspeknya sebagaimana dikembangkan pada bagian “pokok bahasan” silabus ini.
B. Tujuan Instruksional/ Indikator Kompetensi
1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian pendidikan;
2. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian Ilmu Pendidikan;
3. Mahasiswa mampu menjelaskan landasan dan kerangka teoritik pedagogic;
4. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep teori dan praktek pendidikan;
5. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan manusia dan pendidikan;
6. Mahasiswa mampu menguraikan teori-teori yang terdapat dalam pendidikan;
7. Mahasiswa mampu menganalisis Ilmu Pendidikan sebagai sebuah Disiplin Ilmu;
8. Mahasiswa mampu menganalisis Ilmu Pendidikan sebagai sebuah sistem;
9.Mahasiswa mampu menjelaskan tinjauan sosiologis pendidikan;
10.Mahasiswa mampu menjelaskan tinjauan psikologis pendidikan;
11. Mahasiswa mampu menguraikan faktor-faktor pendidikan;
12. Mahasiswa mampu menjelaskan komponen-komponen pendidikan;
13.Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan orientasi pedagogic di Indonesia;
14. Mahasiswa mampu menjelaskan makna long life education;
15. Mahasiswa mampu menganalisis dasar-dasar pelaksanaan pendidikan;
16. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan pendidikan dan filsafat pendidikan.

C. Materi/Kegiatan Perkuliahan
N0 Bahasan/kegiatan Pokok Bahasan
1. Administrasi/Orientasi Perkuliahan
Administrasi Peserta Perkuliahan
Penjelasan Silabus & strategi perkuliahan
BAB I.Landasan dan kerangka teoritik Pedagogik
1.1.Perkembangan disiplin Pedagogik
1.2.Pedagogik sebagai lmu otonom
1.3.Hakekat Pendidikan : Pendekatan Filsafat, Pendekatan Psikologi
1.4.Proses Transformasi
1.5.Proses Individuasi dan The Stackeholders Pendidikan
BAB II.Konsep Teori dan Praktek Pendidikan
2.1.Konsep Pendidikan
2.2.UU Sisdiknas
2.3.Hakekat Pendidikan
2.4.Pendekatan Pendidikan
2.5.Hakekat Belajar, Mengajar, Pembelajaran
2.6.Kondisi dan Prinsip Pembelajaran
BAB III.Pengertian Pendidikan dan Ilmu Pendidikan
3.1.Istilah Pendidikan
3.2.Arti pendidikan
3.3.Pengertian ilmu pendidikan
3.4.Dasar Pendidikan di Indonesia
3.5.Pokok-pokok Isi Pendidikan di Indonesia
BAB IV.Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan
4.1.Syarat-syarat berdirinya Ilmu Pengetahuan
4.2.Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu Normatif, teoritis dan Praktis
4.3.Cabang-cabang dan Ilmu Bantu pendidikan
BAB V.Manusia dan Pendidikan
5.1.Manusia Pendidikan
5.2.Dressur dan Pendidikan
5.3.Hakekat Manusia
5.4.Konsekwensi Pendidikan terhadap Manusia
5.5.Pengembangan Dimensi hakekat Manusia
BAB VI.Teori-teori Pendidikan klasik
6.1.Pendidikan dalam Perspektif Empiris
6.2.Pendidikan dalam Perspektif Nativisme
6.3.Pendidikan dalam Perspektif Konvergensi
6.4.Teori pendidikan sistematis
6.5.Ilmu-ilmu Pendidikan
BAB VII. Komponen-Komponen Pendidikan
7.1.Anak didik dan Pendidik
7.2.Tujuan Pendidikan
7.3.Alat pendidikan
7.4.Lingkungan Pendidikan
7.5.Pendidikan sebagai system
BAB VIII.Anak didik sebagai komponen pendidikan
8.1.Manusia sebagai makhluk social
8.2.Pengertian Peserta Didik
8.3.Karakter Manusia sebagai Peserta Didik
8.4.Batas Awal dan Akhir Pendidikan
BAB IX.Tinjauan sosiologis pendidikan
9.1.Pendidikan dan masyarakat
9.2.Pendidikan dan pembangunan masyarakat
9.3.Pendidikan dan kesadaran kebangsaan Indonesia
9.4.Pendidikan dan kelestarian Pancasila
9.5.Pendidikan dan kesejahteraan masyarakat
BAB X.Tinjauan Psikologis Pendidikan
10.1.Periodisasi perkembangan individu
10.2.Hukum dasar perkembangan kejiwaan manusia
10.3.Proses pendidikan autoaktivitas
BAB XI.Sejarah pendidikan Indonesia
11.1.Perkembangan orientasi pendidikan di Indonesia
11.2.Deskripsi sejarah Pendidikan di Indonesia
11.3.Kritik terhadap pendidikan di Indonesia
BAB XII.Long life education
12.1.Konsep dasar Pendidikan seumur hidup
12.2.Macam -macam pendidikan seumur hidup
12.3.Prinsip dasar pendidikan seumur hidup
12.4.Tujuan pendidikan seumur hidup
BAB XIII.Pendidikan dan perubahan jaman
13.1.Perkiraan masyarakat masa depan
13.2.Kecenderungan globalisasi
13.3.Pendidikan dan masa depan
BAB XIV.Filsafat dan filsafat pendidikan
14.1.Pengertian filsafat
14.2.Filsafat dan ilmu
14.3.Filsafat sebagai metode berpikir
14.4.Filsafat pendidikan

Bagi Peserta Perkuliahan : Tugas Anda membuat makalah dengan sistematka sbb:
1.Judul bab
2.Pengantar (tergambar isi materi)
3.Tujuan instruksional
4.Pembahasan (persub bab)
5.Soal-Soal
6.Kunci Jawaban
7.Daftar Pustaka.

Sabtu, 29 Januari 2011

Penuntun Penelitian Kolaboratif Dosen-Mahasiswa

PENUNTUN KEGIATAN PENELITIAN KOLABORATIF
DOSEN-MAHASISWA*)
By. Aswin H.Mondolang

A. RASIONAL
Belum terbentuknya iklim akademik dalam suatu lembaga pendidikan yang ditandai dengan kurangnya keterlibatan dosen dalam diskusi baik dalam forum ilmiah seperti seminar-seminar maupun dalam diskusi-diskusi yang bersifat informal, kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan dosen (penelitian, seminar, dll), rendahnya frekwensi pertemuan mahaiswa dengan dosen pembimbing, lamanya proses pembimbingan skripsi/tugas akhir, rendahnya produktivitas ilmiah yang dikerjakan oleh dosen dan skripsi oleh mahasiswa merupakan sederetan kendala yang harus diatasi. Untuk itu maka salah satu langkah strategik yang dapat membangun dan menumbuhkan iklim akademik yang terbuka, proaktif, dinamis ke arah interaksi akademik yang bermutu adalah dengan mengembangkan kegiatan penelitian bersama (kolaboratif).
Memang disadari bahwa penelitian yang dilakukan secara bersama (penelitian kolaboratif) mungkin dirasakan relatif masih baru di kalangan lembaga pendidikan seperti di jurusan fisika FMIPA UNIMA Tondana khususnya, bahkan pada dunia pendidikan pada umumnya yang mungkin disebabkan karena kurangnya bahkan (mungkin) tidak tersedianya penuntun/panduan dalam melaksanakan kegiatan penelitian kolaboratif.
Untuk dapat melaksanakan kegiatan bersama yang dikenal dengan penelitian kolaboratif, dan untuk dapat mewujudkannya maka sikap proaktif dari para pakar (dosen) perguruan tinggi sangatlah diperlukan. Jika kegiatan penelitian ini melibatkan mahasiswa maka hal ini akan berdampak pada akselerasi penyelesaian penulisan Tugas Akhir/Skripsi mahasiswa. Dengan demikian penelitian kolaboratif sangat menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat didalamnya serta memberikan keuntungan bagi perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan/ pembelajaran.
B. PENGERTIAN
Penelitian kolaboratif adalah, penelitian antara dosen dengan mahasiswa yang menulis skripsi (dan dapat dikembangkan melibatkan guru mitra). Penuntun/Panduan penelitian kolaboratif ini memiliki penekanan pada penelitian dengan rancangan interaktif antara penelitian payung dengan penelitian payungan.
Penelitian kolaboratif adalah penelitian bersama antara peneliti dengan pihak lain (dosen, guru, atau mahasiswa). Penelitian kolaboratif dilakukan untuk membangun budaya ilmiah di kalangan dosen, mahasiswa (yang sedang menyusun skripsi) dan guru sebagai praktisi pendidikan. Penelitian kolaboratif ini sangat penting untuk dikembangkan di Prodi Pendidikan Fisika FMIPA UNIMA untuk meningkatkan budaya ilmiah di kampus. Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian kolaboratif tersebut maka diperlukan penuntun/panduan penelitian kolaboratif. Penuntun/Panduan penelitian kolaboratif ini difokuskan pada penelitian dengan rancangan interaktif antara penelitian payung dengan penelitian payungan.
Penelitian dalam bidang pendidikan pada hakekatnya dimulai dari adanya keinginan untuk mengetahui, memperbaiki, mengembangkan, meningkatkan suatu variabel atau lebih yang biasanya diawali dengan suatu ide atau gagasan yang muncul dalam benak seseorang atau muncul melalui hasil komunikasi dari dua atau lebih pihak. Apabila ide atau gagasan yang muncul tersebut mulai ditindaklanjuti untuk memulaikan suatu penelitian dengan melibatkan pihak yang lain maka disitulah langkah awal dalam melaksanakan penelitian kolaboratif. Dengan kata lain, penelitian kolaboratif adalah suatu bentuk kegiatan penelitian yang dilaksanakan oleh dua atau lebih pihak yang melibatkan diri sesuai dengan peranannya masing-masing mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pelaksanaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara bersama-sama.
C. TUJUAN
Tujuan pengembangan kegiatan penelitian kolaboratif adalah :
1. Meningkatkan mutu, dan produk penelitian.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian
a. Relevansi penelitian berkaitan dengan keunggulan dan kesesuaian materi penelitian dengan tuntutan kompetensi lulusan sebagai calon guru.
Kualitas penelitian dikaitkan dengan relevansi bidang kajian yang diteliti dengan tuntutan kompetensi lulusan sebagai calon guru
b. Mutu penelitian berkaitan dengan lingkup materi, ketajaman analisis untuk menentukan akar masalah atau gagasan inovatif yang dikembangkan dalam penelitian, uraian latar belakang teori yang menjadi landasan kerangka konseptual penelitian, serta metode yang menentukan keandalan rancangan, validitas proses, perolehan data dan ketepatan model analisis yang dipilih.
Kualitas penelitian difokuskan pada lingkup materi, ketajaman analisis untuk mengidentifikasi akar permasalahan, kreativitas penyelesaian masalah, pengembangan gagasan yang inovatif dan orisinil, uraian latar belakang, kerangka konseptual penelitian, rancangan penelitian, ketelitian pengumpulan data, dan ketepatan analisis data.
Kuantitas penelitian dikaitkan dengan jumlah hasil penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa. Hasil penelitian dosen dapat berupa laporan penelitian dan artikel yang dipublikasikan dalam jurnal. Hasil penelitian mahasiswa dapat berupa skripsi yang disusun mahasiswa yang diikutkan dalam penelitian dosen.
c. Penelitian diharuskan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi (di kelas dan/atau di luar kelas). Produk dimaksud dapat berupa bahan ajar/bahan instruksional, metode/model pembelajaran yang spesifik sesuai karakteristik materi (bukan model-model pembelajaran namun dapat diturunkan dari model-model tersebut), pendekatan-pendekatan analisis materi (subject matter), pemanfaatan sumber pembelajaran dan media pembelajaran dll
Penelitian kolaboratif yang dilakukan difokuskan perbaikan pembelajaran di sekolah, perbaikan pembelajaran di perguruan tinggi, khususnya di Prodi Pendidikan Fisika FMIPA UNIMA, pengembangan model/metode pembelajaran inovatif, pengembangan produk pendidikan seperti bahan ajar, animasi komputer, atau alat evaluasi. Hasil-hasil penelitian tersebut diarahkan pada produk-produk yang dapat digunakan di sekolah atau Prodi Pendidikan Fisika FMIPA UNIMA.
2. Interaksi kegiatan meneliti akan dijamin jika adanya benang merah atau hubungan material antara penelitian payung (oleh kelompok dosen) dengan penelitian payungan (skripsi mahasiswa). Interaksi kegiatan penelitian harus digambarkan secara jelas dalam skema dan prosedur penelitian. Harus diingat bahwa penelitian payung bukan sekedar gabungan dari penelitian payungannya (penelitian skripsi mahasiswa) tetapi dalam rangka meningkatkan budaya meneliti antara kelompok dosen dengan mahasiswa. Budaya tersebut diimplementasikan dalam kegiatan penelitian yang diwadahi dalam penelitian payung (oleh kelompok dosen) dengan penelitian payungan (oleh mahasiswa yang menyusun skripsi). Pada kegiatan penelitian tersebut diharapkan terjadi interaksi secara kolaboratif antara dosen dan mahasiswa. Indikator munculnya interaksi tersebut ditandai dengan skema dan prosedur penelitian. Hal yang perlu diingat adalah penelitian payung bukan sekedar gabungan dari penelitian payungannya (penelitian skripsi mahasiswa).

D. MATERI DAN OBYEK PENELITIAN
Materi penelitian adalah pembelajaran di sekolah (SMP dan/atau SMA) atau perkuliahan di Jurusan Fisika FMIPA UNIMA. Penelitian payung dan penelitian payungan dapat saja meliputi perkuliahan dan pembelajaran di sekolah, asalkan kerangka penelitian, perlakuan dan hubungan variabelnya jelas dan berkaitan (interaktif atau komparatif).
Aspek yang diteliti dalam penelitian adalah aspek-aspek pembelajaran di sekolah (SMP dan/atau SMA) atau perkuliahan di Jurusan Fisika FMIPA UNIMA. Aspek tersebut dapat berupa metode/model pembelajaran, bahan ajar, evaluasi, modul praktikum, atau media pembelajaran. Kaitan penelitian payung dan penelitian payungan ditunjukkan dengan judul penelitian, kerangka penelitian, desain penelitian, dan judul penelitian payungan. Kaitan tersebut bersifat interaktif dan komprehensif.
Materi penelitian bukan merupakan duplikasi dari penelitian sebelumnya, baik penelitian dari tim yang bersangkutan atau tim lainnya. Penelitian yang diajukan dapat merupakan penelitian pengembangan dari penelitian sebelumnya, dan diuraikan secara jelas dalam kerangka konsep penelitian
E. DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian yang dilakukan dalam payung penelitian dan penelitian payungan bergantung pada rumusan masalah dan tujuan penelitian yang akan dicapai. Desain penelitian tersebut dapat berupa penelitian tindakan kelas (PTK), desain penelitian eksperimental, atau penelitian pengembangan (R & D, research and development)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang terjadi di kelas. PTK ini merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud dapat pembelajaran yang terjadi di sekolah (SMP atau SMA) atau pembelajaran di Jurusan Fisika FMIPA UNIMA.
Penelitian eksperimental adalah penelitian yang bertujuan mengungkapkan adanya sebab-akibat dengan menggunakan subjek yang tidak diacak. Desain penelitian yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan adalah desain kuasi-eksperimen
Penelitian pengembangan adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan suatu produk. Produk tersebut disusun berdasarkan hasil analisis data suatu penelitian yang dilakukan sebelumnya
F. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN KOLABORATIF :
Sebagaimana pengertian penelitian kolaboratif yang telah dikemukakan di atas maka langkah-langkah pelaksanaan suatu penelitian kolaboratif dimulai dari perencanaan (diaktualisasikan dalam bentuk proposal), implementasi, dan pelaporan. Bentuk/model perencanaan, implementasi dan pelaporan sangat berkaitan dengan karakteristik/model metodologi penelitian yang sesuai dengan bentuk permasalahan yang akan diteliti atau dikaji. Secara skematik pelaksanaan penelitian kolaboratif dapat ditampilkan sbb :
Skema 1 : Tahapan Pelaksanaan Penelitian Kolaboratif










Keterangan :
 Tahap perencanaan merupakan langkah awal dalam rangkaian penelitian kolaboratif yang dilaksanakan secara bersama oleh tim penelitian (seperti : Dosen dengan Dosen, Dosen dengan mahasiswa) dimana produknya adalah proposal penelitian. Karena penelitian yang saat ini sedang digalakkan dalam dunia Perguruan Tinggi adalah penelitian yang terdiri atas penelitian induk dan penelitian bagian, maka seluruh anggota tim haruslah terlibat dalam penyusunan proposal baik proposal induk maupun proposal-proposal bagian dalam arti berperan serta sesuai dengan kompetensi dan peran yang akan dilaksanakannya. Perlu diingat bahwa dalam penyusunan proposal selalu berpedoman pada kaidah-kaidah yang baku baik secara umum maupun secara lembaga serta prinsip-prinsip metodologi penelitian. Sebagai catatan, setiap proposal perlu disampaikan dalam forum ilmiah (seminar) yang dilaksanakan untuk maksud tersebut dengan prosedur administrasi yang berlaku di lembaga tersebut dengan tidak mengurangi nilai-nilai ilmiah.
 Tahap Implementasi adalah tahap dimana seluruh rencana yang tertuang dalam proposal diimplementasikan/dilaksanakan. Pada tahap ini sangatlah perlu memperhatikan kompetensi pelaksana dengan mengacu pada prinsip-prinsip metodologi penelitian seperti validitas penelitian. Pada tahap ini pembagian tugas yang jelas merupakan suatu aspek yang jangan dilupakan.
 Tahap Pelaporan adalah suatu bentuk pertanggung jawaban atas kegiatan penelitian dan sebagai alat mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian. Dalam konteks penelitian induk dan penelitian bagian, maka pelaporan penelitian induk biasa dalam bentuk Laporan Penelitian, sedangkan pelaporan penelitian bagian dalam bentuk Skripsi/Tugas Akhir. Yang harus dihindari adalah janganlah laporan penelitian induk disusun dalam bentuk gabungan dari laporan penelitian bagian (Skripsi/Tugas Akhir) tetapi hendaknya laporan penelitian bagian itu merupakan sumber data dan informasi dalam menyusun laporan penelitian induk. Baik hasil penelitian induk maupun hasil-hasil penelitian bagian haruslah diseminarkan dalam forum ilmiah sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah dengan prosedur administrasi yang ditetapkan.
G. ALUR PENGAJUAN PROPOSAL PENELITIAN KOLABORATIF :
Proposal penelitian yang disusun oleh tim perlu diajuan kepada Ketua jurusan untuk mendapatkan legalitas sebelum diseminarkan dalam forum seminar jurusan baik proposal untuk penelitian induk maupun penelitian bagian. Tujuan pelaksanaan seminar adalah untuk mendapatkan masukan-masukan untuk kesempurnaan proposal yang diajukan. Sebagai catatan : seluruh anggota tim penelitian kolaboratif (mis. Dosen-Mahasiswa) harus hadir dalam pemaparan proposal.
H. MEKANISME PROSES PEMBIMBINGAN PENELITIAN PAYUNGAN.
Penelitian bagian adalah penelitian kolaboratif yang nantinya diaktualisasikan menjadi Skripsi/Tugas Akhir Mahasiswa. Karena akan menjadi Skripsi/Tugas Akhir maka dalam pelaksanaannya mahasiswa akan dibekali dan dibimbing oleh Tim pembimbing (Dosen) yang akan terdiri atas Pembimbing I dan Pembimbing II. Proses pembimbingan dilaksanakan secara bersama-sama dalam bentuk diskusi pembimbingan antara Tim Pembimbing dengan mahasiswa dan bukan dalam bentuk pembagian tugas pembimbingan.
I. PERSYARATAN DOSEN DAN MAHASISWA
1. Persyaratan Dosen
(a) Ketua Peneliti : adalah dosen tetap yang aktif mengajar di jurusan Fisika, dibuktikan dengan keterangan dari ketua jurusan (apakah perlu ada surat keterangan?) Dianjurkan, ketua memiliki pengalaman (track record) yang relevan dengan materi penelitian yang diajukan. Hal ini ditunjukkan dengan uraian latar belakang, pengajuan masalah dan uraian penelitian yang pernah dilakuka. Pengalaman ketua peneliti juga ditunjukkan dalam curriculum vitae yang dilampirkan pada bagian akhir proposal penelitian.
(b) Anggota peneliti : adalah dosen tetap yang aktif mengajar di jurusan Fisika. Pengalaman anggota peneliti ditunjukkan dalam curriculum vitae yang dilampirkan pada bagian akhir proposal penelitian.
2. Persyaratan Mahasiswa
Mahasiswa yang dilibatkan dalam penelitian kolaboratif (untuk menyusun skripsi) adalah mahasiswa yang memenuhi persyaratan sbb :
(a) Tercatat sebagai mahasiswa aktif di program studi Pendidikan Fisika, FMIPA UNIMA.
(b) Tidak sedang menjalani sanksi akademik dan sanksi lainnya berkaitan dengan status kemahasiswaannya.
(c) Telah lulus matakuliah prasyarat yang ditentukan (disebutkan...).
(d) Telah menyelesaikan jumlah sks yang ditentukan (disebutkan...)
3. Persyaratan pembimbing :
Sesuai ketentuan pembimbingan yang berlaku di UNIMA, setiap mahasiswa yang menyusun skripsi dibimbing oleh dua orang dosen. Kebijakan jurusan : Pembimbing Akademik menjadi pembimbing skripsi. Selain ketentuan tersebut, dosen yang berhak membimbing adalah dosen yang aktif melaksanakan tridharma.
J. KERANGKA/STRUKTUR PROPOSAL
Struktur proposal (meliputi proposal payung dan proposal payungan) adalah sebagai berikut :
A. Proposal Penelitian Payung
Bab I Pendahuluan :
1. Latar Belakang, memuat uraian :
• masalah-masalah pembelajaran yang relevan dan layak untuk diteliti.
• Analisis masalah untuk menemukan akar masalah dan selanjutnya merumuskan model solusi atau inovasi penelitian
2. Rumusan Masalah : berbentuk pertanyaan yang hendak dijawab melalui penelitian. Rumusan masalah diturunkan dari model solusi atau inovasi yang dikembangkan dalam penelitian. Rumusan masalah lebih spesifik dari model solusi masalah. Rumusan masalah harus dapat menggambarkan kaitan permasalahan yang diteliti dalam penelitian payung dan penelitian payungan.
3. Tujuan Penelitian :
Dirumuskan tujuan masing-masing : penelitian payung dan penelitian payungan serta hubungannya. Rumusan tujuan penelitian sejalan atau bersesuaian dengan rumusan masalah penelitian
4. Produk dan Manfaat Penelitian : Uraiankan produk-produk yang akan dihasilkan melalui penelitian payungan dan penelitian payung. Perlu dideskripsikan perbedaan atau variasi antara produk penelitian payungan yang satu dengan penelitian payungan lainnya
Bab II Latar Belakang Teori dan Kerangka Konsep Penelitian
• Menguraikan teori-teori yang melandasi kerangka konsep penelitian
• Menguraikan penelitian terdahulu yang relevan, baik materi maupun metodenya. Usulan akan memiliki tambahan keunggulan jika tim pengusul (ketua dan/atau anggota) memiliki pengalaman penelitian yang relevan atau yang menjadi landasan/acuan pengembangan penelitian yang diusulkan
• Menyajikan secara skematis kerangka konsep penelitian yang memuat elemen-elemen : pokok-pokok masalah - akar masalah – solusi masalah (berdasarkan dukungan teori/penelitian terdahulu) – penjabaran tujuan (terdiri atas penelitian payung dan penelitian payungan), metode penelitian yang menggambarkan : proses, materi/ variabel dan analisis penelitian induk dan penelitian bagian.
Bab III. Metode Penelitian
Komponen metode penelitian pada dasarnya mengikuti jenis penelitian yang dipilih.( eksperimen, PTK dll).
Unsur-unsur metode penelitian yang penting untuk dirumuskan secara jelas, dan sistimatik :
1. Rancangan Penelitian, harus menggambarkan :
• Posisi penelitian payung dan penelitian payungan (menurut materi pembelajaran, variabel, metode pembelajaran, penggunaan media/ sumber pembelajaran, dll)
• Rancangan perlakuan atau prosedur yang digunakan dalam penelitian payung dan payungan. Bagian ini akan menunjukkan jenis penelitian (utama) yang dikembangkan dalam penelitian payung dan payungan
2. Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian payung dan penelitian payungan. Jika variabelnya berbeda harus dijelaskan bagaimana keterkaitan variabel antara penelitian payung dan payungan (serta keterkaitan variabel antar penelitian payungan), sehingga penelitian kolaboratif tersebut dapat menjawab tujuan penelitian dan solusi masalah. Jika variabelnya sama, harus dijelaskan hubungan perlakuan-perlakuan (metode, bahan ajar, media pembelajaran dll – sesuai rancangan penelitian), sehingga variabel dapat dikomparasi dan dianalisis untuk merefleksikan keunggulan perlakuan.
Rumusan variabel harus operasional dan selanjutnya dijabarkan dalam indikator-indikator yang spesifik dan terukur. Indikator-indikator tersebut selanjutnya dirumuskan dalam bentuk instrumen penelitian (format observasi, format evaluasi produk, materi wawancara, materi tes dll).
3. Metode analisis : disesuaikan dengan rancangan penelitian payung dan masing-masing penelitian payungan
B. Proposal Penelitian Payungan
Bab I Pendahuluan :
1. Latar Belakang, memuat uraian :
• masalah-masalah pembelajaran yang relevan dan layak untuk diteliti (sebaiknya disertai data kuantitatif). Latar belakang harus fokus pada pokok masalah yang relevan dengan materi penelitian
• Analisis masalah untuk menemukan akar masalah dan selanjutnya merumuskan model solusi atau inovasi penelitian
2. Rumusan Masalah : berbentuk pertanyaan yang hendak dijawab melalui penelitian. Rumusan masalah diturunkan dari model solusi atau inovasi yang dikembangkan dalam penelitian. Rumusan masalah lebih spesifik dari model solusi masalah.
3. Tujuan Penelitian :
Tujuan penelitian dirumuskan secara spesik dan memberikan arah pada pokok-pokok penelitian. Tujuan penelitian sejalan atau bersesuaian dengan rumusan masalah penelitian
4. Produk dan Manfaat Penelitian : Uraiankan produk-produk yang akan dihasilkan melalui penelitian.
Bab II Latar Belakang Teori dan Kerangka Konsep Penelitian
• Menguraikan teori-teori yang melandasi kerangka konsep penelitian
• Menguraikan penelitian terdahulu yang relevan, baik materi maupun metodenya.
• Menyajikan secara skematis kerangka konsep penelitian yang memuat elemen-elemen : pokok-pokok masalah - akar masalah – solusi masalah (berdasarkan dukungan teori/penelitian terdahulu) – penjabaran tujuan, metode penelitian yang menggambarkan : proses, materi/ variabel dan analisis.
Bab III Metode Penelitian
Unsur-unsur metode penelitian yang penting untuk dirumuskan secara jelas, sistemik dan sistimatik adalah :
i. Rancangan Penelitian :
Rancangan penelitian bergantung pada jenis penelitian yang dipilih (seperti penelitian eksperimen, PTK dll). Untuk mahasiswa yang belum memiliki pengalaman mengajar atau mengajar kurang dari satu tahun, dianjurkan untuk merancang penelitian skripsi dalam bentuk PTK, penelitian eksperimen. Jenis penelitian lain dapat dijaukan yang penting harus memiliki keunggulan dalam hal : kemanfaatan produk/hasil penelitian, metode, link dengan penelitian payung.
ii. Definisi operasional variabel penelitian, yang selanjutnya dijabarkan menjadi indikator-indikator penelitian. Untuk variabel pembelajaran, indikator harus meliputi indikator proses dan indikator capaian/target. Indikator-indikator tersebut selanjutnya dirumuskan dalam bentuk instrumen penelitian (format observasi, format evaluasi produk, materi wawancara, materi tes dll).
iii. Subyek penelitian ( eksperimen, PTK,dll) : uraian kriteria subyek penelitian disesuaikan materi dan rancangan penelitian. Untuk penelitian deskripsi diuraikan populasi, ukuran dan teknik penarikan sampel
iv. Prosedur penelitian : menguraikan tahapan-tahapan kegiatan penelitian (a.l. penyiapan kelas, penyiapan materi dan pelaksanaan pembelajaran, proses pembelajaran, evaluasi proses, evaluasi capaian, refleksi, rekomendasi penelitian). Untuk penelitian eksperimen perlu diuraikan mekanisme pengendalian validitas eksperimen (internal dan eksternal)
v. Metode analisis (sesuai jenis penelitian yang dipilih)
Daftar Pustaka (sistem nama penulis, tahun, judul, penerbit)
Lampiran :

*)Tulisan ini banyak diinspirasi oleh pemikiran Dr.Lia Yuliati.

EVALUASI BELAJAR MENGAJAR FISIKA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN
(SAP)
NAMA MATA KULIAH : Evaluasi Belajar Mengajar Fisika
PROGRAM STUDI : Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fisika
SKS : 4 SKS
HARI/JAM PERKULIAHAN : Senin/10.00-11.40 ; Rabu/08.00-09.40
TEMPAT PERKULIAHAN : Ruang Kuliah PPG Fisika
Dosen : Aswin H.Mondolang

1. Tujuan Mata Kuliah :
Agar mahasiswa memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menyusun dan mengembangkan berbagai bentuk instrument evaluasi pembelajaran fisika di sekolah (SMP/SMA/SMK) yang sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
2. Deskripsi Mata Kuliah :
Mata Kuliah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa calon guru profesional dalam pengembangan berbagai bentuk instrumen evaluasi pembelajaran fisika Sekolah Menengah (SMP, SMA) sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kegiatan dalam mata kuliah ini terfokus pada pemantapan latihan-latihan merancang dan menyusun instrumen evaluasi pembelajaran fisika SMP/SMA, sampai dengan menguji coba, menganalisis dan menginterpretasikan hasil evaluasi, berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh melalui kuliah evaluasi belajar mengajar Fisika.
3. Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami Sistem & Rancangan Penilaian Hasil Belajar serta mampu mengembangkan dan mengaplikasikan berbagai bentuk instrument Evaluasi Belajar Mengajar fisika.
4. Strategi Perkuliahan :
Agar sasaran mata kuliah ini dapat tercapai secara optimal, maka perkuliahan ini menggunakan strategi yang menekankan pada keterlibatan peserta kuliah (mahasiswa) secara aktif dalam mengkaji materi dan membahas tugas yang diberikan dan mengkomunikasikannya/ mempresentasikan dalam forum diskusi kelas.
5. Evaluasi :
Meliputi kehadiran (persyaratan mengikuti UAS) (10%) , keaktifan dalam perkuliahan (dinilai oleh teman sejawat) (10%) , Tugas tertulis perorangan dan kelompok (bobot 30%), UTS (bobot 20%), dan UAS (30%).
6. Sumber Bacaan/program (Rujukan) :
Utama :
1) BSNP., 2008. Pedoman Pengembangan Penilaian. Jakarta
2) BNSP., 2008. Rancangan Hasil Belajar, Jakarta
3) Kurikulum fisika (standar kompetensi) SMP,SMA yang berlaku
4) BNSP., 2010. Panduan Analisis Butir Tes, Jakarta
5) Software/program analisis dengan Kalkulator statistik, EXEL, ITEMAN
Penunjang :
6) Mardapi Djemari, 2008.Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Mitra Cendekia, Yogyakarta
7) Djaali, 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Grasindo.Jakarta

--------------------------------------


PERT. MATERI BAHAN AJAR METODE TINDAK LANJUT/Produk
1 Rancangan Penilaian Hasil Belajar Pwr Point (s.b.2) + (s.b.2) Ceramah, Tanya jawab Mah. Mempelajari bhn ajar
2 Konsep Dasar Evaluasi BM Fisika Pwr Point (s.b.1) + (s.b.3) Ceramah, Tanya jawab
3 Penilaian berbasis kompetensi Naskah (s.b.1) Ceramah, Tanya jawab,
4 Teknik Penilaian Dan Prosedur Pengembangan Tes Naskah (s.b.1) Ceramah, Tanya jawab
5 Penyusunan Kisi-Kisi Dan Butir Soal Naskah (s.b.1) + (s.b.2) + (s.b.6) Ceramah, Tanya jawab Kisi-Kisi Penilaian
6 Penyusunan Kisi-Kisi Dan Butir Soal (lanjutan) Naskah (s.b.1) + (s.b.2) + (s.b.6) Resitasi Kisi-Kisi Penilaian
7 Perumusan Indikator soal, Penyusunan butir soal/tes Naskah (s.b.1) Ceramah, Tanya jawab Kartu-kartu soal
8 UTS
9 Penulisan Butir Soal Untuk Tes Perbuatan Naskah (s.b.1) + (s.b.2) + (s.b.6) Ceramah, Tanya jawab LP kinerja
10 Penulisan Butir Soal Untuk Instrumen Non-Tes Naskah (s.b.1) + (s.b.2) + (s.b.6) Ceramah, Tanya jawab
11 Penyusunan Butir Soal yang Menuntut Penalaran Tinggi Naskah (s.b.1) Ceramah, Tanya jawab
12 Perakitan Butir Soal Naskah (s.b.1) Ceramah, Tanya jawab
13 Prosedur Pemeriksaan Lembar Jawaban,
Perhitungan Nilai Akhir, Dan Penyetaraan Tes /Pengembangan Bank Soal Naskah (s.b.1) Ceramah, Tanya jawab
14 Validitas dan reliabilitas butir soal Pendekatan Klasik Ceramah/Praktikum
15 Validitas dan reliabilitas butir soal Pendekatan Modern Ceramah/Praktikum
16 UAS

Sabtu, 15 Mei 2010

nilai Ujian Tengah Semester Perencanaan Pembelajaran Fisika

nilai UTS m.k Perenc Pemb Fis
07310160 : 2,6
07310504 : 2,6
07311751 : 2,2
07311195 : 1,4
07310169 : 1,0
07311106 : -
07310056 : 2,0
07310220 : 1,0
07310148 : -
07311369 : -
07311017 : -
07310058 : 2,4
07311444 : 2,4
07310311 : 2,6
07311847 : 1,8
07310782 : 1,6
07301083 : 1,8
07310192 : 2,2
07310932 : 1,8
07310819 : 1,6
07311115 : 1,2
07310726 : 2,0
07310110 : -
07310294 : 2,0
07310219 : 1,8

Minggu, 02 Mei 2010

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KEPRIBADIAN ANAK

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI SEBAGAI DASAR
PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KEPRIBADIAN ANAK
Oleh : Aswin H Mondolang

A. PENDAHULUAN
Ada ungkapan bahwa seorang anak yang baru dilahirkan bagaikan kertas putih bersih. Ungkapan itu mengartikan bahwa anak tersebut belum “tercemar” dari lingkungannya dan dia siap untuk menerima segala “warna-warni” kehidupannya. Namun perlu diingat juga bahwa seorang anak yang dilahirkan telah dilengkapi oleh Sang Pencipta dengan bakat yang beraneka ragam sesuai kehendak Sang Ilahi..
Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa setiap manusia telah memiliki faktor –faktor bawaan yang bersifat internal yang turut mempengaruhi karakter dan kepribadiannya, namun yang tidak harus dilupakan adalah factor-faktor eksternalnya yaitu lingkungan kehidupannya seperti keluarga, masyarakat, termasuk di dalamnya sekolah atau lembaga pendidikan yang juga turut mempengaruhi karakter dan kepribadiannya.
Berbicara mengenai lembaga pendidikan, maka tidak terlepas dari makna dan arti pendidikan sebagai “usaha sadar untuk menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan terjadi perkembangan optimal dari potensi yang dibawa lahir peserta didik sejak dini” (Semiawan dalam Sujiono, 2009). Karena merupakan suatu usaha sadar, maka untuk menyediakan suatu lembaga pendidikan yang diuntukkan bagi para anak yang berusia dini, pemerintah dan masyarakat turut andil dalam tanggung jawab tersebut.
Adalah suatu kebahagiaan dan keajaiban, karena selama kurang lebih 50 tahun Indonesia merdeka, pendidikan yang dikhususkan untuk anak-anak berusia dini belum diperhatikan, maka sejak dekade ini telah berkembang dengan pesatnya suatu lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi para anak yang berusia dini yang lebih dikenal dengan nama Pendidikan Anak Usia Dini yang disingkat PAUD. Dalam perkembangannya yang sangat pesat ini tanggung jawab dalam menumbuh-kembangkan PAUD yang berkualitas telah dilaksanakan bukan saja oleh pemerintah (formal) tetapi telah merambah sampai kepada kesadaran yang murni dari masyarakat (non formal). Artinya tanggung jawab dalam membina perkembangan pendidikan bagi anak usia dini telah mengalami perkembangan yang pesat, atau dapat dikatakan telah mengalami perubahan paradigma dari pendidikan yang menjadi tanggung jawab orang tua telah meluas menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Dengan kata lain PAUD telah menjadi tanggung jawab bersama, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai suatu dasar yang kokoh dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak.
B. SIAPA ANAK USIA DINI ?
Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa pemerintah dan masyarakat juga turut berperan atas perkembangan PAUD, dan sebagai bukti kongkrit dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah diakomodir dalam pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”.
Juga dalam Bab I pasal 1 ayat 14 USPN (dalam Sujiono, 2009); ditegaskan lagi bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak-anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Tentu saja bukan sekedar mempersiapkan anak untuk memasuki jenjang pendidikan dasar tetapi lebih jauh daripada itu adalah dalam upaya membentuk karakter dan kepribadian anak yang baik.
C. APA LANDASAN PAUD
Pelaksanaan PAUD sebagaimana telah diungkapkan di atas tentunya merupakan bagian dari usaha pencapaian tujuan pendidikan nasional sebagaimana di atur dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Tujuan Pendidikan Nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Di dalamnya tentu sudah tertuang mengenai pembentukan karakter dan kepribadian anak sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Di negara Republik Indonesia segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan banyak orang (umum) perlu ada landasan yang legal agar pelaksanaannya sesuai dengan aturan atau ketentuan yang diakui bersama. Oleh sebab itu Pendidikan Anak Usia Dini memiliki landasan, yaitu sebagai berikut :
1. Landasan Yuridis .
Sebagaimana telah di singgung di atas bahwa pelaksanaan PAUD berlandaskan pada Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 14; dan pada pasal 28 tentang PAUD dinyatakan bahwa (1) PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal, (3) PAUD jalur pendidikan formal : TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) PAUD jalur pendidikan non formal : KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) PAUD jalur pendidikan informal : pendidikan keluarga atau endidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai PAUD sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Juga dalam UU RI Nomor 23 tahun 2002 pasal 9 ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
2. Landasan fisolofis dan religi.
PAUD pada dasarnya berkembang dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai filosofi dan religius dimana dia bertumbuh berkembang. Ungkapan yang mengatakan bahwa seorang anak yang baru lahir bagaikan kertas putih adalah suatu pandangan yang sangat dilandasi oleh landasan filosofi dan religius, karena yang akan “mewarnai” karakter dan kepribadiannya adalah lingkungan dimana dia bertumbuh dan berkembang. PAUD juga sangat berhubungan dengan nilai-nilai yang berada dalam lingkungannya seperti faktor agama, budaya, adat istiadat, dan social.
D. APA ISI PELAKSANAAN PAUD
Yang dimaksudkan dengan apa isi pelaksanaan PAUD adalah materi pembelajaran yang akan diaplikasikan dalam proses atau program kegiatan belajar bagi anak. Tentunya program kegiatan belajar bagi anak, apakah itu TK, RA ataupun KB, dan TPA seharusnya diarahkan untuk pembentukan karakter dan kepribadian anak. Montessori dalam Hainstock yang dikutib oleh Sujiono (2009 : 202) mengatakan bahwa masa anak usia dini merupakan periode yang sensitif (sensitive periods), dan selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungannya. Oleh karena itulah maka pada masa yang penting ini isi dari program kegiatan belajar haruslah dirancang dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan pemberian pengalaman belajar yang membawa anak pada pembentukan pribadi yang baik.
Apa yang dirancang dan yang akan dilaksanakan dalam program kegiatan belajar PAUD sebagai suatu lembaga yang formal maupun non formal harus tertuang dalam kurikulum yang tentunya secara khusus dirancang dan dikembangkan bagi PAUD. Untuk itu dalam menghasilkan kurikulum yang berisi materi-materi pembelajaran haruslah melalui pendekatan yang berpusat pada anak, dengan pendekatan konstruktivisme, dan berlandaskan pada teori perkembangan anak.
Filosofi dari pendekatan yang berpusat pada anak adalah program yang bertahap dan didasari pada suatu keyakinan bahwa anak akan tumbuh dengan baik jika mereka secara alamiah terlibat dalam proses belajar (Sujiono, 2009 : 203). Dengan demikian anak yang terlibat secara langsung dan alamiah dalam proses belajar tentunya sangat berdampak positif pada perkembangan kognitif maupun psikomotoriknya. Oleh sebab itu semua kegiatan belajar dalam program yang secara sengaja dirancang haruslah berisi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan kognitif, psikomotorik, dan afektif yang baik.
Paham konstruktivisme yang akhir-akhir ini dipandang sebagai paham yang terbaik dalam dunia pendidikan, memandang bahwa pembentukan konsep bagi anak akan lebih bermakna jika anak itu sendiri yang “berinsiatif” membangun pengetahuannya sendiri. Menurut pandangan konstruktivisme seperti yang dikemukakan oleh West & Pines dalam Sutarno (2007 : 8.8) mengemukakan bahwa keberhasilan belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat dan dengar.
Dalam pandangan konstruktivisme, juga ditekankan tentang peranan sarana belajar. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan pengetahuan (Budiningsih, 2005 : 59-60). Dengan demikian maka isi dari program kegiatan belajar PAUD juga perlu memperhatikan tentang apa yang akan mereka lakukan, mereka lihat, dan yang mereka dengar. Karakter dan kepribadian mereka juga akan terbentuk dari apa yang mereka lakukan, lihat dan dengar.
Suatu keyakinan juga bahwa setiap anak yang dilahirkan pasti membawa bakat alamiah. Hal ini terbukti dari lahirnya berbagai insan –sebagai contoh seorang penyanyi- yang walaupun tanpa melalui pendidikan khusus dapat memperlihatkan suara yang merdu dan kemampuan menyanyi yang mempesona. Suatu kenyataan banyak dijumpai anak yang frustasi karena pemaksaan keinginan orang tua atau lingkungan terhadap anak. Untuk itu maka isi dari program kegiatan belajar perlu juga disesuaikan dengan perkembangan mental dan bakat anak sehingga dapat berkembang secara optimal, dan itu semua akan sangat mempengaruhi karakter dan kepribadian anak. Hal-hal inipun perlu diakomdasikan dalam program kegiatan belajar PAUD.
E. SIAPA YANG BERPERAN DALAM PAUD
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Sejak dilahirkan seorang bayi pasti memerlukan pendampingan dan bantuan orang lain. Tidak ada seorangpun yang ketika dilahirkan secara langsung melaksanakan aktifitas untuk kebutuhan dirinya sendiri. Oleh karena itu maka peranan orang lain sangatlah dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Jika ditanyakan siapa yang berperan dalam PAUD maka yang terutama adalah orang-orang yang berperan sebagai guru bersama bantuan orang tua/wali anak.
Sebagai oknum-oknum yang berperan dalam PAUD maka sebagai guru perlu memiliki kompetensi khusus mengenai PAUD yang harus ditempuh melalui jalur pendidikan yang dikhususkan untuk tujuan tersebut. Namun tidak sedikit juga lembaga PAUD yang hanya dilaksanakan oleh “guru” yang tidak melalui jalur pendidikan husus. Tentunya hal ini, disatu sisi perlu diberi apresiasi terhadap para guru yang “mampu” melaksanakan tugas itu, tetapi di satu sisi perlu ada kajian terhadap cara, materi, maupun metode yang digunakan karena kekeliruan dalam pelaksanaan program kegiatan belajar dapat mempengaruhi jiwa dan karakter anak.
Disamping guru, orang tua juga sangat besar peranannya dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Dengan demikian kerjasama yang baik, hubungan kemitraan yang sehat haruslah dibentuk dan dibangun oleh guru dan orang tua demi membangun masa depan anak-anak yang berkepribadian dan berkarakter yang baik.
F. PENGARUH PAUD DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KEPRIBADIAN ANAK
Sebagaimana telah diuaraikan diatas mengenai, siapa anak usia dini itu, apa landasan PAUD, apa isi pelaksanaan PAUD, siapa yang berperan dalam PAUD, maka tidak ada alasan lagi untuk memandang bahwa PAUD adalah sesuatu hal yang kurang penting. Tetap sebaliknya PAUD merupakan fondasi yang kuat jika ingin membangun bangsa dan negara, membangun manusia yang seutuhnya, bahkan membangun peradaban dunia.
PAUD walaupun bukan suatu prasyarat dalam memasuki jenjang pendidikan dasar, namun jika dilihat dari kaca mata kemanfaatan PAUD, sudah seharusnya PAUD dijadikan sebagai suatu prasyarat dalam memasuk jenjang pendidikan dasar. Akan lebih mudah mendidikan anak yang sudah terdidik daripada mendidika anak yang tidak atau belum tersentuh dengan layanan pendidikan. Lebih mudah membangun rumah yang sudah berpondasi kuat daripada membangun rumah yang pondasinya masih rapuh, dan PAUD merupakan proses pembentukan pondasi yang kuat itu.
Suatu kenyataan yang pernah di amati oleh penulis, bagaimana seorang anak ang memasuki jenjang pendidikan dasar (SD) yang menangis dan meronta terus ingin didamping oleh orang tuanya, dan bagaimana anak yang sudah terbiasa dalam kegiatan TK yang begitu percaya diri memasuki jenjang Sekolah Dasar. Jadi dari kenyataan itu dapatlah dikatakan bahwa melalui PAUD anak belajar bersosialisasi, menghadapi masalah, berdikari, mandiri, percaya diri, dan sebagainya sebagai modal utama anak memasuki dunia yang lebih kompleks dan luas.
Jadi dalam usaha pembentukan karakter dan kepribadian anak PAUD memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Adalah suatu penyesalan seumur hidup jika anak-anak kita memiliki karakter dan kepribadian yang mengecewakan, tetapi kebahagiaan seumur hidup apabila anak kita memiliki karakter dan kepribadian yang luhur dan mulia. Sungguh begitu pentingnya PAUD bagi kehidupan kita.
G. KESIMPULAN
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) telah menjadi tanggung jawab bersama, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai suatu dasar yang kokoh dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun.
Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dilandasi oleh (1) landasan yuridis, Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 14; dan pada pasal 28; (2) landasan filosofi dan religi : PAUD pada dasarnya berkembang dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai filosofi dan religius dimana dia bertumbuh berkembang seperti faktor agama, budaya, adat istiadat, sosial, dll.
Isi program kegiatan belajar bagi anak apakah itu TK, RA ataupun KB, dan TPA seharusnya diarahkan untuk pembentukan karakter dan kepribadian anak. Oleh karena itu isi dari program kegiatan belajar haruslah dirancang dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan pemberian pengalaman belajar yang membawa anak pada pembentukan pribadi yang baik. Semua kegiatan belajar dalam program haruslah berisi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan kognitif, psikomotorik, dan sikap yang baik.
Disamping guru, orang tua juga sangat besar peranannya dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Kerjasama yang baik, hubungan kemitraan yang sehat haruslah dibentuk dan dibangun oleh guru dan orang tua demi membangun masa depan anak-anak yang berkepribadian dan berkarakter yang baik.
Karena PAUD merupakan fondasi yang kuat jika ingin membangun bangsa dan negara, membangun manusia yang seutuhnya, bahkan membangun peradaban dunia, maka PAUD walaupun bukan suatu prasyarat dalam memasuki jenjang pendidikan dasar, namun jika dilihat dari kaca mata kemanfaatan PAUD, sudah seharusnya PAUD dijadikan sebagai suatu prasyarat dalam memasuki jenjang pendidikan dasar.
H. PENUTUP
Jadi dalam usaha pembentukan karakter dan kepribadian anak PAUD memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Adalah suatu penyesalan seumur hidup jika anak-anak kita memiliki karakter dan kepribadian yang mengecewakan, tetapi kebahagiaan seumur hidup apabila anak kita memiliki karakter dan kepribadian yang luhur dan mulia.

Rabu, 28 April 2010

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (contoh)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP )
SEKOLAH : ………………………..
MATA PELAJARAN : Mulok ( Menyulam)
KELAS/SEMESTER : ……………………………..
TAHUN AJARAN : 2009/2010
ALOKASI WAKTU : 3 X 45 menit (1 X Pertemuan)

A.STANDAR KOMPETENSI :Mengapresiasi kerajinan menyulam.
B.KOMPETENSI DASAR:(1)Mengenal berbagai produk sulaman, (2)Membuat produk sulaman kruissteek
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat menjelaskan pengertian menyulam.
Peserta didik dapat menjelaskan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk membuat sulaman kruissteek
Peserta didik dapat menjelaskan langkah-langkah pembuatan produk sulaman kruissteek
Peserta didik dapat mempraktikkan pembuatan produk sulaman kruissteek sesuai teknik dan langkah-langkah pembuatan.

D. MATERI AJAR
(1)Pengertian menyulam : membuat suatu produk hiasan pada media kain secara manual dengan menggunakan jarum tangan.
(2)Peralatan dan bahan yang digunakan untuk menyulam :
Kain stramin
Jarum tangan
Benang berbagai warna
Span
Gunting
Sentimeter

(3)Langkah-langkah pembuatan produk sulaman kruissteek :
Menyelesaikan pinggiran kain stramin
Memilih pola/gambar yang akan disulam.
Menentukan jarak penenpatan pola dari pinggiran kain
Lokasi pola yang akan disulam di tempatkan ada alat span
Memasang benang pada jarum sesuai dengan warna yang akan digunakan
E. METODE PEMBELAJARAN
- Ceramah
- Tanya jawab
- Praktik
F. LANGKAH – LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan pembelajaran Alokasi waktu
1. Kegiatan awal/Pendahuluan
a. Persiapan :15’
Mengabsensi siswa dan mempersiapkan kesiapan fisik dan mental peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran.
b. Apersepsi :
Guru menanyakan peserta didik tentang berbagai macam produk benda kerajinan sulaman.
c. Motivasi :
Guru memperlihatkan contoh gambar –gambar dan benda sebenarnya produk kerajinan sulaman.


2.Kegiatan Inti
a. Siswa diarahkan memperhatikan penjelasan guru tentang :35’
Pengertian sulaman
Langkah-langkah pembuatan produk sulaman kruissteek :
Peralatan dan bahan yang diperlukan untuk membuat produk kerajinan sulaman kruissteek.
Fungsi alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat benda kerajinan sulaman.
Dengan bimbingan guru setiap siswa mempraktikkan pembuatan produk kerajinan sulaman kruissteek sesuai Langkah-langkahnya. 60’
3.Kegiatan Penutup
Menyimpulkan :
Guru bersama sisw10’a meresume tentang kerajinan sulaman kruissteek.
Evaluasi formatif :5’
mengevaluasi hasil belajar siswa dengan soal yang disiapkan.
Tindak lanjut :5’
Menugaskan peserta didik untuk mempraktikkan pembuatan sulaman kruissteek di rumah dan melaporkannya pada pertemuan berikutnya.
G. SUMBER / MEDIA PEMBELAJARAN
- Buku “ik kan handwerken” Leiden 1956
- Model sulaman kruissteek
H. PENILAIAN :
(Aspekyang dinilai) (JenisPenilaian) TeknikPenilaian) (Instrumen Penilaian) (keterangan)
Kognitif Hasil Tes Essay (Terlampir)
Psikomotor Proses Non tes Lembar Pengamatan (Terlampir)
Afektif Proses Non tes Lembar Pengamatan (Terlampir)

Soal essay (kogntif) :
Apa yang dimaksud dengan pengertian menyulam? Jelaskan!
Peralatan dan bahan apakah yang diperlukan untuk membuat sulaman kruissteek?
Jelaskan langkah-langkah pembuatan produk sulaman kruissteek!

Selasa, 27 April 2010

MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN

MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN
Oleh : Aswin H Mondolang
Disampaikan Dalam Kegiatan Diklat Guru Bidang Studi Fisika MA yang dilaksanakan pada tgl. 10 s.d. 19 Maret 2008 di Balai Diklat Keagamaan Paniki Bawah Manado-Sulawesi Utara

PENGANTAR
Dalam kegiatan pembelajaran guru selalu berupaya agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan guru adalah dengan memanfaatkan media dan sumber pembelajaran untuk keperluan pembelajaran fisika.
Media Pembelajaran
Pengertian Media Pembelajaran
Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Kegunaan Media Pembelajaran
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistik
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra
3. Mengatasi sifat pasif peserta didik
4. Membantu siswa untuk mendapatkan konsep-konsep pengetahuan dengan jelas
5. Menimbulkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
6. Membantu siswa membentuk suatu gambaran yang benar dalam pikirannya serta menguatkan ingatan
7. Guru dapat menggunakan waktu lebih efektif
8. Membantu guru mengatasi materi yang terlalu luas dan padat.
Penggolongan Media Pembelajaran
1. Realthings : manusia atau peristiwa yang sebenarnya terjadi. Pengajar (guru) adalah media yang yang paling utama dalam proses pembelajaran. Ia adalah fasilitator belajar bagi siswa. Sedangkan papan tulis, kapur, pensil, buku tulis, kertas dllnya, adalah benda yang dipergunakan oleh guru atau siswa untuk menuliskan peristiwa yang sedang diajarkan/diinformasikan/dipelajari.
2. Verbalrepresentations : adalah media tulis/cetak, misalnya buku teks, referensi, jurnal, dan bahan bacaan lainnya.
3. Graphic representations : misalnya chart, diagram, gambar ataupun lukisan yang mungkin dipakai dalam buku teks atau bahan bacaan lainnya, transparency overhead projection, instruction program, dan media visual lainnya.
4. Still picture : seperti foto, slide, overhead projector transparency,.
5. Motion picture : film (movie), televise, video tape dengan atau tanpa suara, animasi dll.
6. Audio recording : seperti pita kaset, CD, dllnya.
7. Programming : kumpulan informasi yang berurutan, bisa berbentuk buku teks, dan lebih canggih seperti pembelajaran berbasis computer (CBI) yang telah dikembangkan dengan berbagai model seperti : Computer Assisted Instruction (CAI), Intellegent Computer Assisted (ICA), Computer Assisted Learning (CAL), Intellegent Tutoring System (ITS).
8. Simulations : lebih dikenal dengan istilah simulasi dan game, computer dapat digunakan untuk simulasi.
Prinsip-Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran
Beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan pemilihan media pembelajaran, yakni :
1. Apakah sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan ?
2. Apakah sesuai dengan kemampuan dan pola belajar siswa ?
3. Apakah sesuai dengan materi pembelajaran ?
4. Adakah bahan/peralatan untuk menunjang memproduksi program media ?
5. Adakah bahan dan peralatan media itu mudah diperoleh/disediakan ?
6. Apakah tidak ada media atau cara lain yang lebih murah tetapi daya gunanya sama ?
7. Apakah biaya pengadaan dan penggunaannya seimbang dengan manfaat serta hasilnya ?
8. Apakah dipastikan kesahihannya (validitasnya)
Langkah –langkah Pengembangan Media
1. Analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik
2. Merumuskan kompetensi yang akan dicapai
3. Merumuskan pokok-pokok materi pelajaran secara rinci
4. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
5. Menulis naskah media
6. Mengadakan tes/revisi
Kriteria Pemilihan Media
1. Sesuaikan dengan tujuan pembelajaran
2. Perhatikan tingkat kemampuan siswa/karakteristrik siswa
3. Ketersediaan media
4. Pembiayaan
5. Mutu/kualitas tekniknya

Sumber Belajar
Pengertian Sumber Belajar
Dalam panduan KTSP, Sumber belajar diartikan adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Dalam pedoman umum Pengembangan Bahan Ajar, sumber belajar diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.
Dari pengertian di atas dapatlah disarikan bahwa semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Kategori Sumber Belajar
1. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku, misalnya : perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam, dan lain sebagainya.
2. Benda yaitu segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, misalnya : situs, candi, dan lain sebagainya.
3. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu dimana peserta didik dapat belajar sesuatu, misalnya guru, ahli fisika, laboran, dan lain sebagainya.
4. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik, misalnya : buku teks, buku ajar, kamus, ensiklopedia, dan lain sebagainya.
5. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya : bencana alam, tabrakan mobil, dan lain sebagainya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru jika sumber belajar diorganisir melalui suatu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber pengetahuan. Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, buku, atau peristiwa dan fakta tidak ada artinya apa-apa.
Bahan Ajar (teaching material)
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa tertulis maupun tidak tertulis.
Lebih spesifik bahan ajar dapat diartikan sebagai seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga menjadi sautu sumber belajar yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Fungsi Bahan Ajar
1. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa
2. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus sebagai substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasai
3. Bahan evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Tujuan dan Manfaat Bahan Ajar
a. Tujuan :
1. Membantu siswa dalam mempelajari sesuatu
2. Menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar
3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran
4. Menjadikan kegiatan pembelajaran lebih menarik
b. Manfaat :
1. Membantu guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
2. Dapat dijadikan karya ilmiah
Jenis-jenis bahan ajar (beberapa diantaranya)
1. Handout. Bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Biasanya bersumber dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang akan diajarkan atau kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik.
2. Modul. Bahan tertulis yang didisain sedemikian rupa untuk tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Pembelajaran dengan modul memungkinkan peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menguasai kompetensi yang ditetapkan.
3. Lembar Kerja Siswa. Berupa lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.
Langkah-langkah penyusunan bahan ajar :
1. Analisis kurikulum, untuk menentukan kompetensi-kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar dengan cara mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator yang menandai suatu kompetensi dasar, materi pokok, pengalaman belajar siswa sehingga dapat diketahui apa jenis dan berapa banyak bahan ajar yang akan disiapkan.
2. Analisis sumber belajar, dilakukan terhadap ketersediaan, kesesuaian, dan kemudahan dalam memanfaatkannya.
3. Pilih dan tentukan bahan ajar, pilih jenis yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kecocokan dengan kompetensi dasarberdasarkan hasil analisis kurikulum dan analisis sumber belajar.
Penutup
Salah satu ciri guru yang profesional adalah jika memiliki kompetensi dalam memilih dan mengembangkan media pembelajaran dan memanfaatkan sumber belajar dalam menjalankan profesinya. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas profesinya setiap guru mutlak mengembangkan dirinya, dan salah satunya dengan berkemauan mengembangkan media pembelajaran, memanfaatkan sumber belajar dan mendisain bahan ajar untuk keperluan pembelajaran. Semoga bermanfaat. Terima Kasih.

Minggu, 18 April 2010

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (Pedoman Praktis Menilai Proposal PTK)

PEDOMAN PRAKTIS
MENILAI PROPOSAL PTK
OLEH :
Aswin H.Mondolang
KOMPONEN PROPOSAL :
A. Judul
B. Latar Belakang Masalah
C. Permasalahan
D. Cara/alternatif pemecahan masalah
E. Tujuan penelitian
F. Manfaat penelitian
G. Kerangka teoritik
H. Metode penelitian
I. Jadwal kegiatan
J. Pembiayaan
K. Daftar pustaka
L. Curriculum vitae
A. JUDUL :
 Tujuan ,
 Cara menyelesaikan masalah
 Tempat penelitian
 (Singkat, jelas, menampilkan sosok PTK)
B. LATAR BELAKANG MASALAH:
 Mendeskripsikan kondisi nyata
 Dukungan penelitian (bila pernah ada)
 Dukungan fakta (dari pengamatan maupun dari kajian pustaka)
 Diuraikan urgensi penanganan permasalahan
C. PERMASALAHAN :
 Diangkat dari masalah keseharian di sekolah
 Layak diselesaikan melalui PTK (dalam jangkauan PTK/guru)
 Hendaknya didahului oleh : identifikasi masalah, analisis masalah, dan refleksi awal, dan diakhiri dengan rumusan masalah
 (sosok PTK secara konsisten tertampilkan)
D. CARA/ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH :
 Memiliki landasan konseptual yang mantap
 Menaati prinsip-prinsip PTK
E. TUJUAN PENELITIAN :
 Konsisten dengan hakekat permasalahan
 Mengarah pada usaha perbaikan (berbeda dengan PF)
F. MANFAAT PENELITIAN:
Diarahkan dengan sasaran :
 Siswa (pewaris langsung)
 Guru (pelaku tindakan)
 Teman sejawat/kolaborator
 Dalam perspektif misi sekolah
G. KERANGKA TEORITIK :
 Berkaitan dengan konteks permasalahan
 Mendukung bentuk tindakan/cara pemecahan masalah
H. METODE PENELITIAN :
 Setting penelitian jelas
 Rencana tindakannya berdaur/siklus
 Data dan cara pengambilannya :
 Sumber data jelas
 Jenis data jelas
 Instrumen (observasi dan evaluasi jelas)
 Indikator/kriteria/ukuran keberhasilannya jelas
I. JADWAL KEGIATAN :
 Dalam bentuk matriks
 Kegiatannya terurut dari awal sampai akhir
 Alokasi waktu dalam satuan minggu/bulan
J. PEMBIAYAAN :
 Jumlahnya sesuai plafond yang ditetapkan (bila disponsori)
 Terinci atas komponen-komponen pembiayaannya
 Dialokasikan secara wajar/sesuai kebutuhan
K. DAFTAR PUSTAKA :
 Sesuai kaidah penulisan karya ilmiah atau sesuai pesan sponsor
L. CURRICULUM VITAE :
 Identitas diri cukup lengkap
 Riwayat pendidikan (sewajarnya)
 Pengalaman meneliti (yang berhubungan)

Komunikasi :
Telepon : (0431)832126/HP.081356024343
e-mail : aswinmondolang@yahoo.co.id
Facebook :aswin mondolang

Jumat, 16 April 2010

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

M A K A L A H
CLASSROOM ACTION RESEARCH
Disampaikan Dalam Kegiatan Seminar Fisika
“Pembelajaran Fisika Berbasis Pengembangan Profesi dan Kompetensi”
17 November 2007
O l e h :
Drs.Aswin H.Mondolang, MPd.
NIP. 131 469 873

I. PENDAHULUAN
Pengaruh aliran Psikologi Kognitif terhadap dunia pendidikan dan makin dihayatinya hak dan kewajiban setiap pihak untuk berperan serta dalam upaya-upaya perbaikan pendidikan, menyebabkan berubahnya pandangan tentang peranan penelitian dalam pendidikan yang bukan hanya untuk pengembangan ilmu tetapi terlebih-lebih juga perbaikan pembelajaran. Para guru tidak dianggap sekadar sebagai penerima pembaharuan tetapi mereka ikut juga bertanggung jawab dalam mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan pembelajaran yang dilakukan terhadap proses pembelajarannya sendiri.
Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan pembelajaran memang merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan, dan salah satu pendekatan pemecahan permasalahan pembelajaran adalah pemanfaatan penelitian pendidikan. Namun sayangnya, berbagai hasil penelitian yang dilakukan di bidang pendidikan selama ini kurang dirasakan dampaknya dalam bentuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.
Setidaknya ada dua alasan mengapa hasil berbagai penelitian pendidikan tersebut kurang berdampak langsung dalam peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Pertama, penelitian pendidikan itu umumnya dilakukan oleh para pakar atau peneliti baik yang bekerja di berbagai pendidikan tinggi khususnya LPTK maupun pada lembaga-lembaga penelitian yang lainnya, sehingga para guru di sekolah-sekolah hanya menjadi obyek penelitian. Kedua, penyebarluasan (dissemination) hasil penelitian ke kalangan praktisi (guru) memakan waktu yang cukup lama (tahunan).
Oleh sebab itu untuk mengatasi persoalan tersebut di atas agar guru tidak lagi hanya sebagai obyek penelitian tetapi dapat juga menjadi subyek/pelaku penelitian, dan hasil penelitiannya juga sekaligus dirasakan dampaknya bagi pengembangan dirinya maupun kualitas pembelajarannya di kelas, maka salah satu alternative adalah dengan melaksanakan pendekatan penelitian yang berbasis kelas/sekolah yang dikenal dengan bentuk penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang disingkat PTK.

II. KONSEP DASAR DAN PENGERTIAN PTK.
Dunia pendidikan sudah semenjak lama mengalami permasalahan, dari jenjang yang terendah bahkan sampai jenjang yang tertinggi. Khususnya pada jenjang SLTP beragam bentuk ketidak-puasan diarahkan kepada para pengajar/guru. Ada yang mengatakan bahwa guru lebih khusus para guru fisika kurang menguasai metodik-pedagogik bahkan kurang menguasai content instructional atau material instructional sehingga mereka kurang pandai mengajar. Di pihak lain para guru menuding bahwa para muridlah yang kurang pandai, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa memang mata pelajaran fisika itulah yang sulit sehingga sulit mengajarkannya apalagi belajar fisika.
Terlepas dari benar atau tidaknya statement-statement tersebut di atas, kita sebagai pengajar mata pelajaran fisika berkewajiban untuk terus membenahi diri dan berusaha terus menyempurnakan profesionalisme kita karena apapun alasannya tugas guru adalah membuat murid/peserta didik menjadi semakin pandai. Atau dengan kata lain kita haruslah berupaya menemukan pendekatan-pendekatan yang efektif dalam rangka meningkatkan profesionalisme kita sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran (fisika) di mana kita bertugas.
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, maka pendekatan yang dipandang cukup efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adalah melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian jenis ini sedang berkembang dengan pesatnya di berbagai negara maju seperti Amerika, Australia, Inggris, Canada. Para ahli pendidikan saat ini telah menaruh perhatian yang cukup besar kepada PTK, karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Kelas yang dimaksud disini bukanlah kelas dalam pengertian ruang kelas, tetapi yang meliputi kegiatan pembelajaran dalam suatu mata pelajaran tertentu.
Berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli seperti : Robert Rapoport (1970), Cohen dan Mantion (1980), Kemmis (1983), Dave Ebbutt (1985), Kemmis & Taggart (1988), Elliot (1991), McNiff (1992) yang kesemuanya memberikan definisi yang mirip satu dengan lainnya. Salah satu dari definisi tersebut adalah yang dikemukakan oleh Stephen Kemmis seperti yang dikutib dalam D.Hopkins dalam bukunya yang berjudul A Teacher’s Guide To Classroom Research, Bristol PA, Open University Press, 1993 halaman 44 yang dikutib lagi oleh Tim Pelatih Proyek PGSM, (1999) menyatakan bahwa Action Research adalah
….a form a self-reflektive inquiry understaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rasionality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations is which practices are carried out.
Dari uraian di atas kita dapat mencermati pengertian PTK secara lebih rinci dan lengkap. Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana peraktek-praktek pembelajaran itu dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahap ( gambar 1).





Gambar 1. Kajian berdaur 4 tahap PTK
Setelah dilakukan refleksi atau perenungan yang mencakup analisis, sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan terhadap proses serta hasil tindakan tadi, biasanya muncul permasalahan atau ide baru yang perlu mendapat perhatian, sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, serta diikuti pula dengan refleksi ulang. Begitulah tahap-tahap kegiatan ini berulang terus, sampai suatu permasalahan dianggap teratasi.
Keempat fase dari suatu siklus dalam sebuah PTK biasa digambarkan dengan sebuah spiral PTK seperti ditunjukkan dalam gambar 2 berikut :

Plan
Reflektif
Action/Observation
Revised Plan
Reflektif
Action/Observation
Revised Plan
Reflektif
Action/Observation

Gambar 2. Spiral Prosedur PTK


III. KARAKTERISTIK DAN PRINSIP-PRINSIP PTK.
Karakteristik pokok PTK meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Bersifat situasional kontekstual, yaitu masalah yang diteliti dan ditindaki berasal dari kelas yang dirasakan sehari-hari oleh guru.
2. PTK tidak dimaksudkan untuk menarik kesimpulan yang akan digeneralisasikan, sehingga tidak perlu memikirkan tentang sampling dan persyaratan analisis statistic inferensial.
3. Kriteria keberhasilan tidak harus diwujudkan dalam bentuk kuantitatif dan/atau kualitatif.
4. Perbandingan hasil atau dampak tindakan dapat dilakukan dengan subyek yang dikenai tindakan itu sendiri dengan melihat perubahan, perbaikan, atau peningkatan yang terjadi dibandingkan dengan kinerjanya sebelum masa pra PTK tanpa harus ada kelompok control seperti yang terdapat pada penelitian eksperimen.
5. PTK dapat bersifat kolaboratif dan partisipatori.

IV. TUJUAN DAN MANFAAT PTK.
Tujuan utama PTK adalah untuk membantu memecahkan masalah prakxis yang dihadapi oleh seorang guru atau sekelompok praktisi (guru dan dosen) untuk perbaikan dan peningkatan layanan professional atau untuk memperbaiki kinerjanya sendiri.
Jika tujuan utama PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan professional –guru- dalam menangani pembelajaran, maka bagaimanakah tujuan itu dapat dicapai? Tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis situasi atau keadaan, lalu kemudian mencobakan secara sistematis suatu alternative tindakan yang ddapat dipastikan dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Manfaat utama PTK secara umum adalah para peneliti –lebih khusus guru- semakin memiliki kemandirian yang didukung oleh rasa percaya diri sehingga akan “lebih berani” mencobakan hal-hal baru yang akan membawa kepada perbaikan kinerja maupun peningkatan hasil kerjanya (proses dan hasil pembelajaran). Apabila hal itu menjadi bagian rutinitas (complacent) dari tugas profesi seorang guru, maka dapatlah dikatakan bahwa “inovasi yang tumbuh dari bawah” seperti itulah yag benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihayati oleh guru di kelas/sekolah yang sangat berpeluang untuk memperbaiki kurikulum eksperiensial ke arah yang dikehendaki.

V. BAGAIMANA MEMULAI PTK ?
Untuk dapat melaksanakan PTK, maka ada pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh peneliti ( guru dan atau dosen) yang ingin melakukannya. Pertanyaan itu kurang lebih sebagai berikut : “Bagaimana memulai PTK?”, “perlukah PTK dilakukan?”
Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut maka yang pertama-tama harus dimiliki oleh (guru dan atau dosen) ialah perasaan ketidakpuasan terhadap praktek pembelajaran yang selama ini dilakukan. Manakala guru selalu puas dengan apa yang ia lakukan dalam proses pembelajaran di kelasnya, meskipun sebenarnya terdapat atau bahkan banyak hambatan yang dialami dalam proses itu, sulit kiranya bagi guru tersebut untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas yang kemudian akan menggiring dimulainya sebuah PTK.
Oleh sebab itu agar guru dapat menerapkan PTK dalam upayanya untuk memperbaiki dan atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih professional, ia dituntut keberaniannya untuk mengatakan secara jujur kepada dirinya sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang dimiliki dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan kata lain guru harus merefleksi, merenung, berpikir balik terhadap apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi sisi-sisi lemah yang mungkin ada. Dalam proses perenungan itu memungkinkan guru akan menemukan kelemahan-kelemahan praktek pembelajaran yang selama ini dilakukannya tanpa disadari.

VI. P E N U T U P
Dari uraian singkat di atas dapat dikemukakan beberapa hal penting bahwa dengan kemauan, kemampuan berpikir reflektif serta keberanian melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) maka penerapannya dapat menjadi :
1. Sebagai alat untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.
2. Sebagai alat pelatihan dalam jabatan profesinya sehingga membekali guru dengan ketrampilan, metode dan tehnik mengajar yang baru, mempertajam kemampuan analisisnya dan mempertinggi kesadaran atas kelebihan dan kekurangan pada dirinya.
3. Sevbagai alat untuk memperkenalkan pendekatan tambahan atau inovatif dalam pembelajaran.
4. Sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi antara guru dilapangan dengan para peneliti/akademisi dari kampus dengan berkolaborasi.

Semoga presentasi ini dapat memberi manfaat.

Referensi

Depdikbud, (1999). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Dirjen Dikti, Proyek PGSM.: Jakarta.
, (1996). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Dirjen Dikti.: Jakarta.
Depdiknas., (2006). Pedoman Penyusunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Dirjen Dikti, Direktorat Ketenagakerjaan: Jakarta.
-------------
Komunikasi :
Telepon : (0431)832126/HP.081356024343
e-mail : aswinmondolang@yahoo.co.id
Facebook :aswin mondolang